Kejahatan Malaysia (Malingsia) Terhadap Indonesia, Paling Lengkap Di Seluruh Dunia

31 Agustus 2009

Kejahatan Malaysia (Malingsia) Terhadap Indonesia, Paling Lengkap Di Seluruh DuniaOleh Abdi – 26 Augustus 2009

Kalau kita selalu mengikuti berita tentang ulah Malaysia (Malingsia) yang terlalu sering membuat masalah dengan pihak Indonesia dengan berbagai masalah yang menimbulkan reaksi keras rakyat Indonesia, maka kesan yang nampak adalah bahwa perbuatan tsb sepertinya disengaja, terencana, sistematis dan pada masa yang akan datang hal tsb sepertinya akan terus dilakukan.

Anehnya yang menjadi sasaran khusus dari ulah Malaysia (Malingsia) tsb adalah Indonesia. Tentunya sudah sejak lama pihak Malaysia (Malingsia) mengamati adanya berbagai kelemahan pihak Indonesia yang terkait dengan wilayah perbatasan, ekonomi, buruknya kualitas SDM TKI, dan krisis cinta tanah air dari rakyat dan tokoh masyarakat yang bertanggung jawab terhadap asset bangsa.

KEJAHATAN DAN PELAKUNYA BEGITU LENGKAP

Rasanya tidaklah berlebihan jika berbagai masalah yang dilakukan pihak Malaysia (Malingsia) terhadap pihak Indonesia adalah kejahatan. Indikasinya adalah rakyat kita selalu marah dengan ulah Malaysia (Malingsia) itu. Kalau kita cermati berbagai kejahatan tsb tampaknya baik jenis kejahatannya maupun jenis pelakunya begitu lengkap. Coba anda simak catatan di bawah ini:

1.Kejahatan oleh pemerintah Malaysia (Malingsia)

Setelah sukses merebut Sipadan dan Ligitan melalui Mahkamah Internasional, kita bisa melihat Pulau Ambalat pun mulai diincar Malaysia (Malingsia) dan mulai di klaim sebagai milik nenek moyang meraka.

Mungkin kalau didiamkan seluruh wilayah Pulau Kalimantan akan diklaim sebagai milik nenek moyang mereka juga. Sekarang saja wilayah perbatasan di Kalimantan sudah digrogoti sedikit demi sedikit.

Selanjutnya dalam perjalanan waktu tertentu kita bisa melihat perampokan pihak Malaysia (Malingsia) terhadap budaya dan kesenian Indonesia yang meliputi: Reog Ponorogo, lagu Rasa sayang-sayange, kain batik, angklung, tarian Indang Pariang (Sumbar), keris, wayang kulit, dan terakhir Tari Pendet.

2.Kejahatan oleh seorang raja Malaysia (Malingsia)

Korban kejahatan raja Malaysia (Malingsia) yang jahat tsb dan sudah menjadi berita besar adalah Manohara. Menurut Manohara masih ada lagi para korban lainnya yang namanya tidak terungkap.

3.Kejahatan oleh rakyat Malaysia (Malingsia)

Korban kejahatan rakyat Malaysia (Malingsia) yang sering berbuat jahat dan sudah sering menjadi berita rutin ini adalah mereka yang menjadi majikanTKI. Korbannya seperti kita ketahui adalah para TKI dalam berbagai macam korban penyiksaan, perkosaan, sampai meninggal dunia.

4.Kejahatan oleh militer Malaysia (Malingsia)

Seperti yang sudah sering diberitakan, kejahatan yang sudah sering dilakukan oleh militer Malaysia (Malingsia) adalah pelanggaran wilayah perbatasan Indonesia dan meremehkan militer Indonesia yang menjaga wilayah perbatasan. Lebih dari itu mereka terkesan seperti ngeledek angkatan laut Indonesia dengan sengaja bermain kucing-kucingan setiap kali dihalau angkatan laut Indonesia. Bener-bener kebangetan.

5.Kejahatan oleh “teroris” yang berasal dari Malaysia (Malingsia)

Kita tentu masih ingat dengan 2 pentolan teroris asal Malaysia (Malingsia). Mereka adalah DR.Azhari dan Noordin M.Top. Syukurlah, Dr.Azhari sudah tewas (khusus untuk teroris kematiannya disyukuri). Sekarang Noordin M.Top menjadi teroris paling di cari Indonesia. Teroris yang sudah malang melintang selama sekitar 9 tahun ini, sampai sekarang masih belum bisa ditangkap. Sementara jaringan pelaku bom bunuh dirinya makin luas. Kasus export teroris ini masih bisa dibantah pemerintah Malaysia (Malingsia) dengan mengatakan bahwa yang mengajarkan DR.Azhari dan Noordin M.Top menjadi teroris adalah ustadz yang berasal dari Indonesia.

6.Kejahatan oleh polisi diraja Malaysia (Malingsia)

Seperti pernah diberitakan belum lama ini bahwa pelatih karateka asal Indonesia menjadi korban pengeroyokan oleh polisi diraja Malaysia (Malingsia). Polisi kok jahat dan pengecut ? Sebelumnya juga ada berita pemerasan yang dilakukan oleh polisi diraja Malaysia (Malingsia) terhadap para TKI.

FAKTOR PENYEBAB

Apa yang menjadi penyebab dari berbagai masalah yang dibuat pihak Malaysia (Malingsia). Tampaknya masalah yang terkait dengan kejahatan dan pelanggaran hak cipta tsb disebabkan oleh hal-hal sbb:

1.Krisis moral

Kriris moral akan menyebabkan pihak manapun untuk melakukan pelanggran hak cipta setiap kali ada kesempatan di mana salah satu kesempatan tsb adalah adanya kelemahan dari pihak yang memiliki hak cipta tsb. Misalnya kurang memiliki kepedulian terhadap budaya bangsa dan kurang inisiatif untuk mengurus hak paten dari budaya bangsa tsb. Sedikit banyaknya pelanggaran hak cipta oleh pihak Malaysia (Malingsia) dsebabkan oleh kelemahan pemerintah Indonesia.

2.Tidak memiliki rasa malu

Dari banyaknya jenis budaya yang diklaim sebagai budaya Malaysia (Malingsia) seperti uraian di atas hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Malaysia (Malingsia) dan rakyatnya tidak memiliki budaya malu.

3.Rakyatnya mungkin pengecut ?

Rakyat Malaysia (Malingsia) tampaknya tidak memiliki aktifis dan budayawan seperti Randra yang berani melakukan protes terhadap pemerintahnya yang melakukan pelanggaran hak cipta. Coba anda simak pernyatan yang nadanya membodohi Indonesia dari budayawan Malaysia (Malingsia) yang bernama Ummu Hani Abu Hasan ini: “ . . . . Malaysia (Malingsia) dan Indonesia adalah negara serumpun, jadi tidak masalah jika budaya Indonesia digunakan Malaysia (Malingsia) . . . . “

4.Tidak kreatif

Budaya suatu bangsa muncul dari kreatifitas rakyatnya. Tampaknya hal ini kurang dimiliki oleh rakyat Malaysia (Malingsia). Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab dirampoknya budaya Indonesia seperti uraian di atas.

KOREKSI DIRI

Rasa nasioalisme yang sangat terusik oleh ulah Malaysia (Malingsia) itu hendaknya jangan hanya menimbulkan realsi keras seperti uraian di atas yang memang menjadi hak kita. Rasa nasionalisme harusnya juga memotivasi kita untuk melakukan koreksi diri. Saya yakin jika kita diperlakukan sembarangan oleh pihak lain, pastilah hal tsb disebabkan oleh adanya berbagai kelemahan yang ada pada diri kita, yang perlu dikoreksi dan diperbaiki.

Pelanggaran wilayah dan perampokan budaya Indonesia oleh pihak Malaysia (Malingsia), sedikit banyaknya juga disebabkan oleh kelemahan pemerintan Indonesia dan rakyatnya dalam berbagai hal, seperti kurang perhatian dalam perlindungan TKI, kurang menghargai budaya bangsa sendiri, kurang memiliki inisiatif untuk membuat hak paten budaya bangsa, kelemahan dalam penjagaan wilayah perbatasan, dll.

Perhatikanlah bagaimana pihak Malaysia (Malingsia) memberi pernyataan yang membodohi Indonesia dengan mengatakan bahwa iklan pariwata yang menggunakan tari pendet dibuat oleh pihak swasta yang tidak mengatasnamakan pemerintah Malaysia (Malingsia).

CATATAN AKHIR

Mohon maaf, tulisan ini boleh saja dikritik sebagai reaksi dari emosi yang meledak-ledak. Tapi percayalah tulisan ini disebabkan karena rasa nasionalisme saya yang sudah terbakar sampai merah membara. Sedangkan saya hanyalah rakyat kecil yang tidak memiliki power apa-apa, selain berteriak-teriak di blog Kompasiana ini. Di lain pihak, mereka yang memiliki power kelihatannya tenag-tenang saja. Terima kasih kepada Kompasiana yang telah bersedia menyalurkan kemarahan saya.

Rasanya saya ingin bertanya kepada rakyat Malaysia (Malingsia): “Anda itu sebenarnya saudara serumpun atau musuh serumpun ?”

Mohon maaf kepada para blogger, untuk kali ini saya hanya mengharapkan komentar dari para blogger yang memiliki rasa nasionalisme saja untuk melengkapi tulisan ini dengan berbagai komentar yang bernuansa cinta tanah air dan juga bernuansa koreksi diri selain bereaksi secara emosional. Sekali lagi mohon maaf, kepada yang tidak memiliki rasa nasionalisme mohon tidak usah memberikan komentar. Terima kasih.

Salam dari: Abdi Dharma Group (Jakarta).

Tanggapan dari siapapun yang “berniat baik, logis, dan santun”, akan penulis terima dengan senang hati. Terima kasih.

Sumber : Kompasiana.com


Diam-diam Malaysia (Malingsia) Incar Kolintang

31 Agustus 2009

Diam-diam Malaysia (Malingsia) Incar KolintangOleh EddyMesakh – 26 Augustus 2009

Hari-hari terakhir ini kita dibikin naik pitam oleh kelakuan negeri tetangga, Malaysia (Malingsia), gara-gara mereka seenaknya menggunakan tari pendet karya almarhum Wayan Rindi, maestro tari asal Bali. Wajar saja kita kesalpada kebiasaan buruk negeri tetangga yang suka asal klaim itu.

Beberapa waktu lalu negeri serumpun itu mengklaim alat musik angklung, tarian reog ponorogo, batik, hombo batu, tari folaya, lagu Rasa Sayange, rendang Padang, dan sejumlah budaya lainnya. Tanpa izin dari yang punya dan seolah tidak tahu malu, mereka menggunakan produk budaya karya seniman Indonesia dalam iklan pariwisata mereka.

Ternyata, diam-diam mereka juga tertarik “menggarap” musik kolintang asal Sulawesi Utara. Ini berdasar penuturan pemilik Sanggar Kolintang `Maesa’, Carolus G Tulung (48), kepada Tribun Manado, di kediamannya di Jl Sato Yoseph, Kleak, Manado, Selasa (25/8/2009).

Tulung menuturkan, seorang warga negara Malaysia (Malingsia) pernah menawari dirinya bersama sanggarnya untuk menggelar pertunjukan alat musik tradisional dari bambu itu di Malaysia (Malingsia). Tawaran itu disampaikan ketika Tulung memimpin petunjukan kolintang di The Ritzy Hotel dan panggung hiburan Baystreet Bahu, tahun 2006 silam.

Pria Malaysia (Malingsia) itu datang bersama grup musiknya dan kebetulan menginap di Ritzy Hotel. “Dia sempat memberikan kartu nama pada saya, dia mengaku manajer lembaga musik budaya di Malaysia (Malingsia),”tutur Tulung.

Pria itu bahkan bersedia menanggung semua biaya transportasi dan semua kebutuhan Tulung cs selama berada di Malaysia (Malingsia). Namun Tulung menolak tawaran kerjasama itu, kendati ketika itu dirinya tidak terpikir mengenai sikap Malaysia (Malingsia) yang sering mengklaim produk budaya Indonesia.

“Dia tawarkan kerjasama untuk kolaborasi dengan grup musiknya di Malaysia (Malingsia). Saya tidak meresponnya karena memang enggan. Selain itu, saya juga tidak kenal jenis musik di sana seperti apa dan budayanya bagaimana,” imbuh Tulung.

Mencuatnya kasus klaim Malaysia (Malingsia) atas tari pendet asal Bali dan berbagai produk budaya Indonesia, membuat Tulung semakin sadar bahwa alat musik tradisional asli Sulut itu juga harus segera dipatenkan agar tidak ditiru atau bahkan direbut oleh bangsa lain.

“Bagaimana pun, itu musik tradisional khas Sulut. Bahkan aset seni budaya Sulut. Tidak boleh dirampas atau dibiarkan negara lain mengakui miliknya,” ujar Tulung..

Dia berharap pemerintah memberi perhatian dan melakukan tindakan penyelamatan atau mematenkan alat musik kolintang maupun produk budaya Sulut lainnya, seperti lagu-lagu dan tari-tarian, agar tidak gigit jari setelah dicaplok bangsa lain. “Saya harap pemerintah jaga, perhatikan, dan pelihara aset budaya Sulut. Kalau tidak kita bisa kebobolan, dan dijadikan keuntungan oleh negara lain,”ujarnya.

Dia menambahkan, selain promosi pariwisata yang kurang, bila kita lengah, ditambah pencaplokan budaya secara terus-terusan oleh Malaysia (Malingsia), akan membuat wisatawan mancanegara justru menganggap produk budaya Indonesia sebagai milik Malaysia (Malingsia). Sebab, Malaysia (Malingsia) sangat royal dalam mempromosikan pariwisata mereka. Mereka tidak hanya beriklan di stasiun televisi lokal, tapi juga stasiun televisi internasional seperti CNN.(*)


Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia)

31 Agustus 2009

Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???Pekanbaru (ANTARA News) – Informasi yang dimuat sejumlah web site di Internet menyebutkan bahwa Pulau Jemur yang ada di wilayah Provinsi Riau adalah bagian dari daerah tujuan wisata Negeri Selangor, Malaysia (Malingsia).

Berita itu langsung mendapatkan reaksi keras Pemerintah Provinsi Riau, Senin, yang dengan tegas menyatakan bahwa Pulau Jemur adalah pulau terluar di Kabupaten Rokan Hilir, Riau, yang berbatasan dengan Malaysia (Malingsia) di Selat Malaka.

Informasi mengenai promosi pariwisata yang dimuat oleh traveljournals.net dan osvaja.net menyebutkan bahwa Pulau Jemur sebagai destinasi wisata Negara Bagian Selanggor, Malaysia (Malingsia).

Dalam situs traveljournals.net dicantumkan lokasi dan peta Pulau Jemur yang dikatakan masuk dalam wilayah Selangor, Malaysia (Malingsia). Hanya saja, tidak bisa diketahui informasi mengenai penanggung jawab laman pariwisata tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Biro Humas Pemprov Riau Zulkarnain Kadir di Pekanbaru meluruskan informasi yang menyesatkan di laman Internet tersebut bahwa Pulau Jemur merupakan bagian Indonesia.

Ia mengatakan pulau itu bagian dari Kabupaten Rokan Hilir yang sudah dilengkapi dengan berbagai infrastuktur oleh pemerintah setempat.

“Pemerintah Riau dan Rokan Hilir juga menjadi Pulau Jemur sebagai salah satu ikon wisata di provinsi ini. Jadi gak benar klaim milik Malaysia (Malingsia) tersebut,” katanya.

Ia menjelaskan, Pulau Jemur berada di gugusan Kepulauan Arwah di perairan Kabupaten Rokan Hilir. Pulau tersebut merupakan pulau terluas yang mencapai 2,5 kilometer persegi.

Menurut dia, kawasan tersebut sudah lama memang dijadikan sebagai salah satu objek wisata andalan di Riau. Karena itu, klaim Pulau Jemur sebagai salah satu daerah tujuan wisata Negeri Jiran merupakan kerugian bagi Indonesia khususnya Riau. (*)

Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Pulau Jemur Diklaim Jadi Obyek Wisata Malaysia (Malingsia) - Mengapa Malaysia Selalu Maling???
Sumber : Antara News (31 Agustus 2009 )


Malaysia (Malingsia) dan Jati Diri Bangsa

31 Agustus 2009

Malaysia (Malingsia) dan Jati Diri Bangsa - Mengapa Malaysia Selalu Maling???Oleh Suhandi Taman Timur

Gonjang-ganjing dimunculkannya tari Pendet di dalam iklan promosi pariwisata Malaysia (Malingsia) baru-baru ini, yang ditayangkan melalui stasiun televisi Discovery masih terus menuai heboh. Ungkapan kemarahan datang dari berbagai penjuru tanah air. Segenap bangsa ini berang atas sikap Malaysia (Malingsia) yang tidak tahu malu, yang mengklaim seni dan budaya kita sebagai milik mereka.

Pada kesempatan ini, saya tidak akan membahas tentang otentisitas tari Pendet sebagai tarian asli rakyat Bali. Saya juga tidak akan menilai jenis pelanggaran, baik hukum maupun etika yang telah dilakukan oleh Malaysia (Malingsia). Saya hanya ingin merenung, kenapa kasus pembajakan jati-diri bangsa ini terus-menerus dilakukan oleh saudara-muda serumpun kita, Malaysia (Malingsia). Kelihatannya, saudara-muda serumpun ini benar-benar sedang mengalami krisis jati-diri. Hal ini bermula dari sejarah berdirinya negara Federation of Malaya tahun 1957, yang kemudian menjadi Malaysia (Malingsia) pada 1963.

Bangsa Indonesia lahir dan bangkit akibat penderitaan dan penindasan yang dilakukan oleh penjajahan Belanda. Sejak tahun 1908 kita sudah merintis jati-diri kita sebagai bangsa. Tahun 1928 kita sudah berikrar sebagai bangsa Indonesia yang bersatu. Untuk membentuk negara Republik Indonesia kita berani bertempur melawan Belanda dengan berkorban jiwa, raga, harta dan air mata. Semboyan kita pada waktu itu adalah “Merdeka atau Mati”. Malaysia (Malingsia) mengalami perjalanan sejarah yang beda. Mereka tenggelam selama masa penjajahan Inggeris yang berabad-abad lamanya. Mereka justru dibangunkan dari tidur-panjangnya oleh penjajah Inggeris pada awal tahun 1950-an. Mereka disiapkan oleh sang penjajah untuk merdeka pada tahun 1957. Persiapan administratif kenegaraan dan tata kelola pemerintahan kelihatannya oke, tapi mereka tidak siap dengan jati-diri yang jelas sebagai bangsa. Bendera kebangsaan direkayasa dari pola bendera stars and stripes-nya Amerika. Lagu kebangsaan menjiplak lagu Indonesia, yang diklaim sebagai lagu rakyat Melayu yaitu, Terang Bulan Terang Dikali. Bahasa resmi masih bahasa Inggeris. Bahasa Melayu hanya dipakai secara terbatas pada semboyan negara yaitu, Bersekutu Bertambah Mutu, syair lagu kebangsaan Negaraku dan terjemahan nama resmi negara Federation of Malaya, menjadi Persekutuan Tanah Melayu (PTM). Sedangkan rakyatnya terdiri dari tiga kelompok etnis yaitu Cina, India dan Melayu, dengan perbandingan jumlah yang hampir berimbang. Setiap kelompok etnis ini berkomunikasi diantara sesamanya dalam bahasa etnisnya masing-masing, disamping bahasa Inggeris.

Selama masa penjajahan Belanda, perkembangan seni dan budaya Indonesia, terutama bahasa dan sastra Indonesia berjalan baik. Kita mempunyai Pujangga Baru dan Pujangga Lama. Bahkan orang Belandapun menaruh minat terhadap Bahasa Melajoe Indonesia ini. Kita mengenal nama-nama seperti Prof A. Teeuw, C. Ijspert, Van Opphuijzen dan lain-lain. Sedangkan Malaysia (Malingsia), selama masa penjajahan Inggeris tidak menggubris seni, budaya, bahasa dan sastranya. Orang Inggeris pun tidak menaruh minat atas bahasa bangsa jajahannya itu. Setelah merdeka pada tanggal 31 Agustus 1957, barulah Malaysia (Malingsia) menaruh perhatian terhadap bahasanya. Dalam hal ini, saudara-tua serumpun Indonesia menjadi tumpuan sebagai rujukan dan malaikat penolong.

Dalam perjalanannya, Malaysia (Malingsia) berhasil memajukan negaranya secara fenomenal. Dari sebuah bangsa yang “tidur-panjang”, Malaysia (Malingsia) melesat bangkit sebagai negara yang berperan penting di kawasan regional dan internasional. Di bidang politik, Malaysia (Malingsia) berhasil menjaga kestabilan pemerintahan secara berkesinambungan dimana suksesi kepala pemerintahan berjalan relatif mulus. Dibidang ekonomi, Malaysia (Malingsia) sukses memakmurkan rakyat dan negaranya. Mereka juga maju di bidang sosial, teknologi dan lingkungan. Kota kota, pantai pantai dan sungainya bersih. Kontras dengan keadaan kita di Indonesia. Hanya di bidang budaya, Malaysia (Malingsia) mengalami krisis jati-diri, yang sudah dimulai sejak mereka lahir sebagai bangsa.

Moto Malaysia (Malingsia) Truly Asia adalah terjemahan visi bangsa yang dirumuskan secara jenius. Visi bangsa Malaysia (Malingsia) adalah Malaysia (Malingsia) yang maju dan memainkan peran yang penting dalam percaturan dunia, dan dalam berbagai bidang. Terjemahan visi ini dalam bidang transportasi adalah menjadi titik pusat atau hub lalu lintas dunia di kawasan Asia Tenggara. Artinya, di kawasan ini Malaysia (Malingsia) ingin menyingkirkan Singapura sebagai pelabuhan transito laut dan udara. Dalam bidang pariwisata, Malaysia (Malingsia) Truly Asia ingin merepresentasi Asia di Malaysia (Malingsia). Bagi dunia luar (luar Asia), Asia diidentikkan dengan Cina dan India, dua peradaban besar yang mendominasi Asia. Melalui pariwisata mereka ingin menunjukkan bahwa peradaban dan budaya Cina, India dan ditambah dengan Melayu bisa dijumpai di Malaysia (Malingsia). Ambisi pariwisata dan transportasi Malaysia (Malingsia) adalah menempatkan Malaysia (Malingsia) sebagai daerah tujuan wisata (DTW) utama (main destination), sekaligus menempatkan negara-negara tetangga lainnya, termasuk Indonesia, sebagai DTW tambahan (side destinations). Moto ini kini dikumandangkan secara intensif dan efektif ke seluruh dunia melalui promosi pariwisata sebagai garda garis depan. Malaysia (Malingsia) kini telah mencapai apa yang dicita-citakannya sebagai negara paling terkemuka di Asia Tenggara. Jumlah kedatangan pelancong dari mancanegara telah mencapai angka 20 juta wisatawan per tahun, melampaui Thailand yang cuma bisa meraih 15 juta. Bandingkan dengan pencapaian Indonesia yang hanya 6,4 juta saja. Di lingkungan pergaulan internasional, Malaysia (Malingsia) tampil sebagai negara industri yang maju, setara dengan negara-negara maju yang lain. Tapi di forum ini pula mereka merasakan ada sesuatu yang kurang pada dirinya yaitu, identity atau jati-diri sebagai bangsa Asia. Hal ini menyebabkan mereka merasa “minder”.

Jati diri sebagai bangsa yang multi-etnis mungkin tidak terlalu masalah. Tapi elite yang berkuasa sekarang adalah puak Melayu yang gamang dengan jati-dirinya, ditengah-tengah euforia suksesnya pembangunan ekonomi dan kemakmuran. Alih-alih menciptakan jati-diri yang pantas untuk dirinya, mereka malah mengklaim seni budaya orang lain sebagai miliknya. Mereka tampil sebagai les nouveaux riches atau orang kaya baru (OKB) dengan segala ulah-polahnya. Hal ini ditingkah pula dengan sikap angkuh terhadap saudara-tua serumpun, menganggap rendah dan menghina Indonesia. Tapi untuk hal jati-diri yang tidak ia miliki, ia tidak malu-malu mengklaim dirinya sebagai saudara-muda serumpun. Pepatah mengatakan, bila hari telah panas maka lupa kacang akan kulitnya, begitulah kira-kira tabiat saudara-muda serumpun kita sekarang. Almarhum Coluche, seorang komedian Perancis pernah berkata bahwa istilah le nouveau riche atau OKB tidaklah tepat, yang tepat adalah l’ancient pauvre atau mantan “kere”. Kita tahu bahwa kelakuan mantan “kere” dimana-mana sama saja noraknya.

Hikmah yang dapat dipetik dari kasus ini adalah, bahwa pembajakan aset-aset budaya ini sebaiknya ditangani secara kepala dingin. Ada jalur hukum yang dapat kita tempuh tanpa harus mengobarkan emosi kita secara sia-sia. Sebaliknya kita juga bisa belajar dari Malaysia (Malingsia) bahwa visi nasional itu sangat perlu dan dapat dikomunikasikan secara efektif melalui promosi pariwisata. Kalau Malaysia (Malingsia) bisa berjaya, padahal ia memulai pembangunan negaranya lebih kemudian dari kita, mengapa Indonesia tidak bisa? Benar kita sudah merdeka selama 64 tahun, tapi tidak ada istilah terlambat untuk berusaha maju. Paling tidak, Indonesia mempunyai identitas nasional yang sangat kuat.

Suhandi Taman Timur. Jakarta, 31 Agustus

Sumber : Kompasiana.com (31 Augustus 2009)