PEKANBARU–MI: Klaim Negeri Jiran Malaysia (Malingsia) atas Tari Pendet Bali sebagai budaya Melayu Malaysia adalah sebuah kebohongan besar.
Tari pendet yang merupakan bagian budaya Hindu Bali sama sekali tidak pernah masuk literatur tari daerah di semenanjung Malaysia (Malingsia).
Budayawan Riau Al Azhar menegaskan, klaim Malaysia (Malingsia) atas Tari Pendet sebagai tari asli negara itu sama sekali tidak masuk akal. Klaim itu justru menunjukkan kebohongan besar bangsa Malaysia (Malingsia), karena dalam sejarah Melayu tidak pernah disebutkan Tari Pendet merupakan tari daerah semenanjung Malaya maupun Riau.
“Literatur Melayu tidak pernah mengenal Tari Pendet meskipun pada abad ketujuh Masehi kebudayaan Melayu pernah berasimilasi dengan budaya Hindu, tapi tidak termasuk dalam penggabungan budaya tersebut,” kata Al Azhar kepada Media Indonesia di Pekanbaru, Selasa (25/8).
Karena itu, lanjutnya, klaim Malaysia (Malingsia) atas Tari Pendet dan wayang dalam iklan Malaysia Truly Asia sebagai promosi wisata Malaysia (Malingsia) ke seluruh dunia tidak berdasar. Malaysia (Malingsia) secara sengaja memanfaatkan khasanah kekayaan budaya Indonesia untuk memperkenalkan wisata negerinya.
“Jadi sangat jelas bahwa Tari Pendet yang diklaim Malaysia (Malingsia) sebagai budaya Melayu adalah suatu bentuk kebohongan,” ujarnya lagi.(RK/OL-01)
Reporter : Rudi Kurniawansyah
Sumber : Media Indonesia Selasa, 25 Agustus 2009 19:56 WIB

26 Agustus 2009 pukul 1:55 am |
sudah saatnya bangsa ini menyadari kelemahannya, jangan sampai warisan budaya bangsa diklaim lagi oleh bangsa lain. mari tumbuhkan rasa nasionalisme kita dengan cara mempelajari dan memelihara budaya bangsa!
kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang
14 September 2009 pukul 10:16 am |
memang sudah seharusnya kita akhiri kontroversi klaim tari pendet karena pihak yang paling bertanggung jawab telah meminta maaf secara resmi kpd pemerintah indonesia….
dan tanpa mengurangi rasa nasionalisme, kasus ini menjadi sebuah pengalaman berharga bagi bangsa indonesia sekaligus sebagai proses pembelajaran agar kita lebih dewasa dan bersikap logis bukan hanya mengedepankan emosi belaka…
toh bangsa indonesia mendapatkan manfaat dari kasus ini…
Discovery Channel Menebus Kesalahan terhadap bangsa Indonesia : Program 30 Menit Tari Pendet
23 September 2009 pukul 8:15 am |
[...] ard1z.wordpress.com [...]
23 September 2009 pukul 10:09 am |
Indonesia tidak akan pernah meminta maaf atas kejadian pembakaran bendera malaysia. Siapa yang berbuat maka akan menanggung akibatnya. yang terjadi karena kemalasan pemerintah malaysia dalam hal cek dan ricek. Seharusnya kerajaan malaysia yang harus meminta maaf kepada seluruh warga negara Indonesia atas kelalaian, kealfaan, keteledeoran dalam mensensor /cek and ricek film yang dibuat pihak lain. Seharusnya film yang telah dibuat mesti di koreksi / di cek dan ricek / dilihat / diteliti / ditonton / diperhatikan dengan secara seksama sebelum di publish / disebar luaskan. Jangan cuci tangan seperti itu donk. Mengapa segampang itu cuci tangan. Dimana pemerintah malaysia saat itu ??? Tidur ??? mengapa tidak melakukan perhatian penuh sebelum film tersebut di publish / ditayangkan ke dunia luar ????? Sadarilah bahwa jiwa nasionalis rakyat Indonesia lebih peka dan sangat tinggi saat ini. Lebih-lebih lagi soal ambalat. Serumpun ya serumpun, tapi hormati negara tetangga.
23 September 2009 pukul 1:28 pm |
tarian pendet tak pernah di klaim sabagai tarian Malaysia..kalau bapak bapak pernah datang kat Malaysia ni tidak pernah tarian ini ditarikan oleh mana mana penari Malaysia.. kami pun tak pernah dengar tarian ini , kecuali bila kasus ini dibesar-besarkan di Indonesia …Kesilapan telah dilakukan oleh pihak Discovery Channel sendiri dan telah pun dimaklumkan kepada pihak Malaysia dan Indonesia.. saya harap habis takat itu sahaja dan tidak dipanjangkan lagi..
Malangnya ada golongan di Indonesia yang ingin memanjangkan perkara ini.. sedihnya saya bila maruah negara Malaysia diginjak-ginjak dan dibakar oleh orang Indonesia.. emosi sungguhh.. Mintak bapak-bapak sudilah kiranya jemput balik lebih 2 juta TKI yang mencari nafkah halal dan haram di Malaysia , saya rasa Malaysia akan berasa aman dan kurang sesak sekiranya 2 juta TKI ini dikembalikan.Bukan begitu lebih baik dong!
23 September 2009 pukul 2:02 pm |
mengapa kerajaan Anda tidak kroscek, cek and ricek , sensor terlebih dahulu sebelum di publish ??? itulah kesalahan kerajaan ANDA… OK ??????
seperti halnya kasus PULAU JEMUR, yang di salah gunakan oleh pihak wisata resort di malaysia…. yang dengan mudahnya mengklaim pulau jemur sebagai bagian wisata malaysia… namun ternyata yang benar adalah pulau JEMOR …. nah berkat ketelitian warga dan media Indonesia… akhirnya pihak wisata malaysia merubahnya dari pulau JEMUR menjadi pulau JEMOR. cek di sini
http://2.bp.blogspot.com/_z12Oiw-jHDE/SpwS5bXWFsI/AAAAAAAACI4/1OFW3qy86Rs/s1600-h/pulau-jemur-diklaim-malaysia-malingsia-traveljournals.jpg
bukti nyata klaim pihak wisata malaysia sebelum terjadi informasi dari media Indonesia.
cek di sini…
http://ardiz.blogspot.com/2009/09/pulau-jemur-diklaim-jadi-obyek-wisata.html
bagaimana Anda menanggapi ini semua ???
dimana kerajaan Anda saat itu ???? TIDUR ?????
jika tidak ada protes dari media, warga dan blogger Indonesia… wisata malaysia akan seenaknya… segampang dan semudah membalik telapak tangan atas pengakuan yg sengaja di buat-buat untuk kepentingan malaysia…
saya tanya sekali lagi ???? dimana kerajaan ANDA saat itu ??? mengapa harus menunggu warga dan media Indonesia yang terlebih dahulu protes ??? mengapa kerajaan ANDA tidak mensensor dan mengatasi terlebih dahulu ????
Jika tidak ada protes dari INDONESIA, maka kesalahpahaman dunia akan terus berlanjut, dan pulau jemur akan selamanya di akui milik malaysia… OK ??? itu lah jelinya media dan warga Indonesia atas rasa nasionalisnya. Paham tak ???
3 November 2009 pukul 11:58 am |
bodoh la semua ni.
Bergaduh sesama.
Orang lain gelak gembira.
Tegur dan betulkan apa yang salah bukan tidak boleh.
Tapi menghukum dan menuduh adakah perlu?
Jika segala keburukan dikumpul dan menganggap ia satu penghinaan kepada Indonesia, dimana maruah menerima bantuan Malaysia di saat mengalami ujian Tuhan?
Bukankah berbincang dan musyawarah itu lebih baik?
Malaysia mungkin salah. Harus ditegur.
Indonesia juga berhak pertahankan warisan budaya kerana ia satu khazanah. Biarlah kena pada caranya.
Hubungan baik sesama manusia harus dijaga. Bukan di hancurkan. Amarah harus pandai dikawal. Kelak buruk padahnya.