Oleh EddyMesakh – 26 Augustus 2009
Hari-hari terakhir ini kita dibikin naik pitam oleh kelakuan negeri tetangga, Malaysia (Malingsia), gara-gara mereka seenaknya menggunakan tari pendet karya almarhum Wayan Rindi, maestro tari asal Bali. Wajar saja kita kesalpada kebiasaan buruk negeri tetangga yang suka asal klaim itu.
Beberapa waktu lalu negeri serumpun itu mengklaim alat musik angklung, tarian reog ponorogo, batik, hombo batu, tari folaya, lagu Rasa Sayange, rendang Padang, dan sejumlah budaya lainnya. Tanpa izin dari yang punya dan seolah tidak tahu malu, mereka menggunakan produk budaya karya seniman Indonesia dalam iklan pariwisata mereka.
Ternyata, diam-diam mereka juga tertarik “menggarap” musik kolintang asal Sulawesi Utara. Ini berdasar penuturan pemilik Sanggar Kolintang `Maesa’, Carolus G Tulung (48), kepada Tribun Manado, di kediamannya di Jl Sato Yoseph, Kleak, Manado, Selasa (25/8/2009).
Tulung menuturkan, seorang warga negara Malaysia (Malingsia) pernah menawari dirinya bersama sanggarnya untuk menggelar pertunjukan alat musik tradisional dari bambu itu di Malaysia (Malingsia). Tawaran itu disampaikan ketika Tulung memimpin petunjukan kolintang di The Ritzy Hotel dan panggung hiburan Baystreet Bahu, tahun 2006 silam.
Pria Malaysia (Malingsia) itu datang bersama grup musiknya dan kebetulan menginap di Ritzy Hotel. “Dia sempat memberikan kartu nama pada saya, dia mengaku manajer lembaga musik budaya di Malaysia (Malingsia),”tutur Tulung.
Pria itu bahkan bersedia menanggung semua biaya transportasi dan semua kebutuhan Tulung cs selama berada di Malaysia (Malingsia). Namun Tulung menolak tawaran kerjasama itu, kendati ketika itu dirinya tidak terpikir mengenai sikap Malaysia (Malingsia) yang sering mengklaim produk budaya Indonesia.
“Dia tawarkan kerjasama untuk kolaborasi dengan grup musiknya di Malaysia (Malingsia). Saya tidak meresponnya karena memang enggan. Selain itu, saya juga tidak kenal jenis musik di sana seperti apa dan budayanya bagaimana,” imbuh Tulung.
Mencuatnya kasus klaim Malaysia (Malingsia) atas tari pendet asal Bali dan berbagai produk budaya Indonesia, membuat Tulung semakin sadar bahwa alat musik tradisional asli Sulut itu juga harus segera dipatenkan agar tidak ditiru atau bahkan direbut oleh bangsa lain.
“Bagaimana pun, itu musik tradisional khas Sulut. Bahkan aset seni budaya Sulut. Tidak boleh dirampas atau dibiarkan negara lain mengakui miliknya,” ujar Tulung..
Dia berharap pemerintah memberi perhatian dan melakukan tindakan penyelamatan atau mematenkan alat musik kolintang maupun produk budaya Sulut lainnya, seperti lagu-lagu dan tari-tarian, agar tidak gigit jari setelah dicaplok bangsa lain. “Saya harap pemerintah jaga, perhatikan, dan pelihara aset budaya Sulut. Kalau tidak kita bisa kebobolan, dan dijadikan keuntungan oleh negara lain,”ujarnya.
Dia menambahkan, selain promosi pariwisata yang kurang, bila kita lengah, ditambah pencaplokan budaya secara terus-terusan oleh Malaysia (Malingsia), akan membuat wisatawan mancanegara justru menganggap produk budaya Indonesia sebagai milik Malaysia (Malingsia). Sebab, Malaysia (Malingsia) sangat royal dalam mempromosikan pariwisata mereka. Mereka tidak hanya beriklan di stasiun televisi lokal, tapi juga stasiun televisi internasional seperti CNN.(*)

2 September 2009 pukul 10:07 am |
dah tw juga di game ROCK LAGENDS di FB Kulintang tu world instrument dari Indonesia,,, malaysia malaysia….
2 September 2009 pukul 4:37 pm |
kami warga malaysia tak tau pun apa itu tarian pendet. di indonesia saje yang ribut2. hal kecil diperbesarkan.sebab itu negara kamu terus mundur. media yang dipegang oleh pemerintah kamu sengaja memainkan api kebencian antara dua negara untuk menutup isu tentang kemiskinan dan korupsi oleh mereka,tp malang,rakyat indon terus buta dan alpa dengan isu2 remeh. kerana tarian dan lagu sanggup berperang.berperang terlebih dahulu untuk memajukan ekonomi negara kamu sehingga rakyat kamu tak perlu lagi datang ke malaysia ni baik legal atau ilegal untuk mencari rezeki di bumi malaysia yang kamu hina ini.kalau malaysia ini hina,maka hina jugala rakyat indon yang mencari rezeki di sini
5 September 2009 pukul 10:38 pm |
itulah kami,.. jiwa patriot ataupun nasionalisme kami yang berbicara,. bukan terkait oleh TKI ataupun Faktor Ekonomi, kami maju kedepan barisan untuk sumbangsih negeri tercinta, dari seluruh nusantara, sabang sampai merauke, punya darah pengabdian yang tinggi pada negri tercinta. mengikuti jejak pahlawan2 kami terdahulu,.. sebab kami dapat merebut kemerdekaan kami, dengan penuh pengorbanan harta ataupun nyawa, kami adalah sebuah negri yg melimpah ruah akan berbagai kesenian budaya dan suku bangsa. setiap pemimpin kami, adalah yang terbaik, dengan mengemban tugas sebenarnya, menyatukan seluruh suku bangsa dibawah bendera sang saka merah putih. indonesia adalah berikutnya, pada saatnya kami maju dari apa yang kami punya,. kami maju dari generasi yang kami punya, dan kami maju dari apa yang tlah diwariskan dari apa yang tlah diwariskan pada kami,..! inilah kami. sebuah negara yang dibangun oleh bakat putra & Putri, dari seluruh negeri,. negri kami adalah negri dari mayoritas pribumi, dan kami akan terus berkarya,. bukan untuk dijajah atau pun dikendalikan oleh suatu negara dari mana pun..! janji kami untuk SOEKARNO – HATTA
15 September 2009 pukul 7:44 am |
Ekonomi dapat nyolong aja bangga bukan main…..malingsia bin bangsatsia abu rampoksia
Emang Malingsia dah merdeka…? Pertanyaan mendasar buat Bangsa maling….peribahasa mengatakan kalau dekat penjual parfum pasti wangi, kalo berkawan dengan rampok minimal jadi copet…lhooo malaysiakan bersekutu ma singapor…inglis..ostrali…dalam commonwealt artinya malaysia masih diketekin ratu inglis hayooo lho ihhh bauuu…singapor…malingin tanah dari Riau Kepri, malaysia ngerampok gugusan Sipadan Ligitan ostrali ngojok2 Timor Timur merdeka juga Papua hati2…
Pertanyaan mengapa demikian ? Jawaban sederhana saja…. Negara RI kaya, tapi korup minta ampun….baru mikir buat pribadi….termasuk pemimpinnya….ini kepikiran oleh mereka yg bersekutu erat dg yahudi…inglish banyak yahudi !!! yahudi itu bangsa kera dan babi yg hina…lha temennya apa dong…yaa sama aja kali !!….ingat bangsa kera dan babi ngepet itu cuma bisa bikin teritori lain berantakan contoh israil di Timur Tengah….disini malaysia cs begitu pula dg ekspor nurdin m top dan azahari biar RI berantakan !!! nurdin m top dan azahari itu didikan intelijen mereka… kalo RI berantakan mereka berpesta…..waspada…waspada !!!!
22 September 2009 pukul 5:05 pm |
Mudah2an tarian pendet ini tidak dijadikan satu kewajiban seperti solat 5kali sehari. Apakah budaya diberi keutamaan sebegitu sekali hinggakan sanggup menjadikan ia bahan pertelingkahan antara Ummat Islam?
Asal dari budaya apa kah sebenarnya tarian ini?
Apakah tarian ini sunat atau wajib ditari oleh tiap Muslim, satu perintah yang terkandung dalam kitab suci kita AlQuran?
Sedih, Indonesia satunya Negara yang mempunyai penganut Agama Islam yang terbesar didunia, mempertengahkan soal ini sebagai satu tarikah nafas Nasionalisma diri?
Astafirullahhulazim.
CKA.