Tidur Tingkatkan Kekebalan Tubuh

30 September 2009

Tidur Tingkatkan Kekebalan TubuhMengonsumsi vitamin C dosis tinggi merupakan cara populer untuk meningkatkan daya tahan tubuh sekaligus menghindari penyakit flu. Padahal, memiliki waktu tidur yang cukup jauh lebih efektif. Sebuah studi teranyar yang dimuat dalam jurnal The Archives of Internal Medicine, menunjukkan kurang tidur dan rentan terjangkit flu berjalan beriringan. Para ahli bahkan berpendapat tidur cukup merupakan cara paling ampuh untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Dalam studi tersebut para peneliti mengamati 153 pria dan wanita selama dua minggu untuk mengetahui kualitas dan durasi tidur mereka. Lalu, selama 5 hari para responden tersebut dikarantina dan dipapar dengan virus flu.

Ternyata mereka yang tidur kurang dari 7 jam setiap malam 3 kali lebih rentan sakit dibanding dengan mereka yang jam tidurnya rata-rata 8 jam.

Tidur dan imunitas tubuh memang berkait erat. Penelitian menunjukkan mamalia membutuhkan waktu tidur lebih banyak untuk memproduksi sel darah putih pelawan penyakit.

Peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology juga menunjukkan, spesies yang tidur lebih banyak memiliki daya tahan lebih tinggi melawan patogen penyebab penyakit. “Spesies yang durasi tidurnya lebih banyak menunjukkan peningkatan sistem imun dan lebih terlindung dari penyakit,” kata peneliti. (kps)

Tribun Batam (29 September 2009)


Indonesia Juara Kompetisi Enterpreneur Internasional di London

29 September 2009

Indonesia Juara Kompetisi Enterpreneur Internasional di LondonNama Indonesia kembali berkibar di dunia internasional. Kali ini, prestasi diperoleh setelah menggondol penghargaan tingkat dunia di ajang ‘British Council International Young Creative Entrepreneur (IYCE) Award’ di Inggris.

Demikian pengumuman, yang dilaksanakan di festival ‘100 % Design’ di London, Inggris, pada Jumat (25/9) lalu, itu diterima oleh Kompas.com, Selasa (29/9). Prestasi itu disumbangkan oleh arsitek muda Indonesia, Johansen Samsoedin.

Selain berhasil meraih penghargaan khusus ‘Wirausahawan Sosial Berprestasi’, Johansen juga menjadi juara kedua pada ‘IYCE Design Award 2009′. Berkat kemenangan itu, Indonesia masih memegang rekor sebagai satu-satunya negara di dunia yang paling banyak meraih gelar internasional, yaitu sebanyak 5 kali sejak 2006.

Sementara itu, saingan terdekat Indonesia, yaitu India, hanya berhasil meraih 4 penghargaan. Bisa dikatakan, IYCE merupakan gelaran unik di antara penghargaan bidang-bidang kreatif lainnya. Sebabnya, acara ini mengangkat peran wirausahawan di sektor kreatif dan menghubungkan para pelakunya di negara-negara berkembang dengan negara Inggris.

Tercatat, lebih dari 3,000 wirausahawan kreatif dari 47 negara pernah berpartisipasi di ajang ini sejak pertama kali diluncurkan oleh British Council pada 2004 lalu. Namun, khusus penghargaan “Wirausahasan Sosial Berprestasi” baru pertama kali dianugerahkan di ajang IYCE Award 2009. LTF

Sumber : KOMPAS.com (29 September 2009)


Angklung "Ikon" Indonesia di Acara Mahasiswa Asean

29 September 2009
Angklung Komunitas mahasiswa Indonesia di Brisbane meneguhkan batik dan angklung sebagai dua “ikon” warisan budaya bangsa Indonesia pada festival seni budaya Asia Tenggara di depan ratusan mahasiswa mancanegara.

Acara tersebut berlangsung di kawasan danau kampus Universitas Queensland (UQ) St.Lucia, Selasa.

Dalam kegiatan pesta seni budaya dan kuliner acara “ASEAN Uni Games 2009″ yang diikuti organisasi mahasiswa Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia (Malingsia), dan Singapura itu, kehadiran batik ditopang oleh busana dua puluhan orang pemain angklung dan ornamen yang digunakan beberapa gerai kontingen Merah Putih.

Konser angklung mahasiswa Indonesia yang para pemainnya berasal dari UQ, Universitas Teknologi Queensland, dan Universitas Griffith itu membawakan empat lagu.

Diiringi petikan gitar, grup angklung Indonesia itu menghibur puluhan pengunjung dengan lagu “Tanah Airku”, “Ondel-Ondel”, “Indonesia Jaya” dan “Laskar Pelangi”. Kemudian, seorang aktivis mahasiswi Indonesia di UQ memperkaya penampilan kontingen Merah Putih dengan beberapa lagu daerah Nusantara.

Menurut Salim Darmadi, kegiatan seni-budaya, kuliner, dan pertandingan olahraga antarmahasiswa dari ke-empat negara anggota Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) ini sangat mendukung upaya mempererat tali persahabatan antarmahasiswa ASEAN.

Pandangan yang sama juga disampaikan Christine Low, mahasiswi Singapura di UQ. Ia mengatakan, kegiatan “ASEAN Uni Games” ini akan membantu mengintegrasikan komunitas mahasiswa ASEAN, khususnya mereka yang berasal dari Singapura, Indonesia, Brunei, dan Malaysia.

“ASEAN Uni Games ini kegiatan yang bagus. Perlu ada lebih banyak kegiatan bersama yang dilakukan,” kata anggota Komunitas Mahasiswa Singapura di UQ ini.

Sementara itu, kalau Indonesia menampilkan angklung dan lagu-lagu daerah, menurut Christine Low, Singapura menyumbangkan lagu yang populer saat perayaan Hari Raya Imlek (Tahun Baru China), “He Xin Nian”.

Berbeda dengan Indonesia dan Singapura, Malaysia menyuguhkan beberapa tarian dan pameran busana khas negeri jiran itu.

Menurut mantan Presiden Perhimpunan Mahasiswa Malaysia di UQ, Johan Kamal Hamidon, pihaknya menampilkan tari Zapin dan tari India, serta pameran busana tradisional dari sejumlah kelompok etnis di Sabah.

Selain dihibur dengan aneka pertunjukan seni-budaya, puluhan orang pengunjung festival ASEAN Uni Games 2009 yang penyelenggaraannya bertepatan dengan pekan libur tengah semester kampus itu juga dimanjakan dengan aneka makanan khas Indonesia, Brunei, Malaysia dan Singapura.

Setidaknya ada delapan gerai yang menawarkan aneka menu masakan dengan “harga mahasiswa”. Gerai makanan Indonesia tampak menonjol karena tidak hanya menghadirkan gerai yang dikelola mahasiswa tetapi juga keluarga mahasiswa dan warga, seperti “Makanan Indonesia” dan “Sweet Javanese”.

Gerai “Makanan Indonesia” menawarkan menu masakan ampal, ikan goreng sambal balado, dan ayam goreng, sedangkan “Sweet Javanese” menyuguhkan sejumlah menu andalan, seperti martabak telur, siomay, dan “es Kopyor” dengan harga satu sampai lima dolar Australia.

Gerai makanan yang dikelola Hemy Arwandy, Masyhadi Halidi dan beberapa orang rekannya menawarkan menu berupa “nasi Katok” berisi nasi lemak, ayam dan sambal, “nasi lemak”, dan Pop Mie buatan Indonesia, sedangkan gerai makanan mahasiswa Singapura menjual satai dan aneka makanan ringan seharga dua dolar.

Para pengunjung pun disuguhkan tontonan film gratis di gedung teater “Schonell” UQ. Film Indonesia “Ada Apa dengan Cinta” dan film Singapura “I Not Stupid” (Saya Tidak Bodoh) ditayangkan masing-masing pada pukul 11.00-13.00 dan 15.00-17.00

Berkaitan dengan pesta olahraga yang menjadi inti parlehatan “ASEAN Uni Games” ini, panitia menetapkan enam cabang olahraga yang dipertandingkan. Ke-enam cabang olahraga itu adalah sepakbola, “touch rugby”, atletik, “netball”, futsal, dan bola basket.

Kontingen Indonesia mengikuti semua cabang yang dipertandingkan di pesta olahraga yang berlangsung dari Minggu (27/9) hingga Kamis (1/10) itu. JY

Sumber : KOMPAS.com ()


Gamelan Malaysia Dipesan dari Solo

29 September 2009

Negeri jiran Malaysia (Malingsia) memasukan alat musik gamelan dalam daftar kesenian dan budaya warisan kebangsaan Malaysia. Malaysia bahkan telah mendaftarkan paten gamelan pada 23 Februari 2009.

Yang mengejutkan, dalam dua bulan terakhir Malaysia sudah memesan gamelan dari Kota Solo. Gamelan itu dipesan dari sejumlah perajin gamelan yang tersebar di Kota Solo.

“Sepengetahuan saya, jumlah gamelan yang dipesan oleh Malaysia sebanyak 20 perangkat,” kata mantan Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Rahayu Supanggah di Solo, Selasa 29 September 2009.

Menurut dia, jumlah perajin gamelan di Malaysia tinggal sedikit, sehingga mereka lebih memilih memesan gamelan di Kota Solo. Selain lebih murah harganya, kualitasnya juga sudah cukup bagus.

Meski serupa, gamelan yang diklaim Malaysia berbeda dengan gamelan Jawa.

Perbedaan karakter tersebut , kata dia, dapat dilihat dari jenis-jenisnya. Jika gamelan Malaysia terdapat sekitar delapan alat musik tetapi dalam gamelan Jawa lebih banyak lagi, ada sekitar 20 alat musik. Seperangkat gamelan khas Malaysia terdiri atas kromong, gong, saron, gender.

“Gamelan khas Jawa lebih kompleks. Selain itu teknis dari permainannya pun berbeda. Jika dalam gamelan Jawa dengan slendro pelognya. Tetapi dalam gamelan Malaysia cara memainkannya adalah dengan nada pentatonis dengan berdasarkan nada-nada Eropa (do re mi fa, red),” utur komposer film Opera Jawa tersebut.

Dia menuturkan, perkembangan gamelan di Malaysia sudah pesat. Dia mencontohkan, gamelan di Malaysia sudah sering digunakan dalam penyambutan acara kenegaraan. Lebih dari itu, sejak di selenggarakan Simposium Gamelan Sedunia di Malaysia satu tahun lalu, Malaysia menetapkan gamelan menjadi mata pelajaran wajib di sekolah.

“Jangan grusa-grusu menyikapi klaim gamelan oleh Malaysia. Karena di Indonesia sendiri jenis gamelan banyak dan berbeda-beda, seperti gamelan Jawa, Bali dan Sunda,” jelas dia.

Supanggah justru melihat pematenan gamelan oleh Malaysia tersebut lebih kepada kepentingan ekonomis dan politis. Karena sebagian besar yang mempermasalahkannya adalah politisi dan pengusaha.

“Hal ini terkait dengan hak paten yang memiliki nilai ekonomis. Kalau seniman tidak mempermasalahkan, karena sifat kesenian tidak saling bermusuhan tapi saling menghargai dan universal,” ujar Penasihat Simposium Gamelan Sedunia di Malaysia 2008 itu.

Sumber : VIVAnews (29 September 2009)